Hidup dengan Buku, Hidup dengan Hati | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Hidup dengan Buku, Hidup dengan Hati


Kategori: Artikel

Selama hampir sebelas tahun saya menempati sebuah rumah di kawasan Dago milik keluarga Uncle (begitulah saya menyebut paman saya tercinta). Suami dan anak saya, Ilalang, pernah juga tinggal di sana selama 2-3 tahun. Rumah itu berkah bagi saya. Kebun rumah yang sangat lapang dipenuhi oleh aneka pepohonan, labu sayur, cabe rawit, dan jeruk nipis yang tak pernah berhenti berbuah, ruang-ruang dalam rumah itu penuh oleh buku. Yang mengagumkan, semua buku yang ada di sana sudah tuntas dibaca Uncle.

Kemudian saya pindah ke rumah yang 1/6 lebih kecil dari rumah Dago. Rumah baru ini milik saya dan suami, artinya rumah yang bisa kami miliki sesuai uang yang kami punya. Dua bagian dindingnya menempel dengan dua rumah tetangga, satu bagiannya dengan dapur, dan satunya lagi dengan ruang tamu orang. Kepada teman yang bertanya-tanya, saya selalu berseloroh, "tembok ini simbol persatuan". Saya tak sudi berkecil hati. Di rumah baru ini ada banyak hal yang saya sukai, itu lebih dari cukup. Rumah kecil saya ini dipenuhi buku yang hampir mendominasi semua ruangan, kecuali kamar mandi dan dapur.

Kemarin saya terlibat "clash" dengan tetangga yang ruang tamunya menempel dengan kamar tidur anak saya. Beberapa kali saya pergi, bak mandi selalu saya biarkan kosong. Anehnya, setiap kali pulang saya dapati bak mandi sudah penuh terisi. Karena air ledeng kami masih menyatu (meskipun tetangga sudah memakai pompa), saya bertanya pada tetangga, "Tadi airnya ngalir ya?" Saya tak sempat berpikir kalimat itu akan membuatnya tersinggung. Tetangga sempat diam sebentar, lalu menutup pintu setelah berkata bahwa ia tidak tahu. Tak lama ia membuka lagi pintu rumahnya, marah, "Saya merasa dituduh ngutak-atik ledeng, itu tidak pantas! Gembok saja pusatnya supaya yakin tidak diutak-atik orang." Saya sempat bengong sebentar sebelum kemudian menjawab,'Saya tidak menuduh Anda Tetangga saya marah bukan main hingga tak mau mendengarkan saya. Setelah salat asar, saya kembali mengetuk pintu rumahnya. Sebelum ia marah-marah lagi, saya meminta maaf berkali-kali telah membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan saya barusan. Saya pun sebisa-bisanya menjelaskan sebab saya bertanya demikian, tetapi nasi sudah jadi bubur, ia tidak terima dan tak menggubris permintaan maaf saya.

Ternyata kemudian masalah itu melebar pada wilayah-wilayah lain yang lebih peka. Tetangga saya menuduh saya suudzhan, berburuk sangka. Saya mencoba menenangkan diri dengan mengobrolkan banyak hal dengan suami. Saat itulah saya bertanya padanya,"Kenapa orang harus merasa sangat tersinggung karena hal-hal kecil?" Sahut suami, "Mungkin karena orang tidak tahu hal-hal lebih baik yang bisa ia lakukan."

Saya langsung ingat Uncle. Bukan apa-apa, ia orang yang paling jarang merasa terganggu. Dalam banyak peristiwa yang dialaminya selama hidup, ia sangat-jarang terganggu. la sudah mengalami banyak hal dahsyat yang dihadapinya dengan kepala dingin dan tenang. la hanya pernah menyesal satu kali, yaitu ketika putra sulungnya mati bunuh diri di sebuah taman di Amerika. Itulah kali pertama ia menangis seperti anak kecil. Dalam keadaan senang atau susah Uncle selalu membaca, bahkan dalam keadaan sangat susah pun ia tetap membaca. la membaca banyak buku dan punya segudang pengalaman hebat selama hidupnya. la pernah menjelajah Antartika, menjadi insinyur sipil setelah lulus cum laude dari sebuah universitas di Australia, memiliki kebun bunga kala lili (waktu itu satu-satunya di Bandung) di penghujung tahun 1980-an, beternak llamas; hewan seperti unta di Australia, meneruskan kuliah S2 dalam usia 60 tahun, membuka usaha rumah makan di Sumatra, berganti agama tiga kali (lbrani, Kristen, Islam), pernah jadi orang kaya, mengusahakan jalannya Grameen Bank di Sumatra Utara untuk membantu meminjamkan uang kepada ibu-ibu miskin agar memiliki usaha sendiri. la cerdas sekali. Selama tujuh tahun hidup dengannya, saya mendapatkan apa-apa yang tidak saya peroleh selama tujuh belas tahun bersama orang tua. Hebatnya, ia juga menyayangi saya seperti anak kandungnya sendiri. la mendidik saya untuk menghargai diri saya sendiri, meyakinkan saya bahwa saya bisa menulis, menyekolahkan saya, memaksa saya menyukai dan membaca banyak buku, juga membuat saya "bicara".

Saya sangat terkejut ketika suatu hari membersihkan kamarnya, menemukan map usang yang ujung-ujungnya termakan serangga. Di dalamnya ada guntingan-guntingan koran ketika Uncle dan teman-teman peneliti di Australia mengunjungi Antartika guna kepentingan eksplorasi. la tak pernah menceritakannya pada saya. Fotonya bersama para peneliti lain terpampang di koran itu. la pun pernah membuat buku dari hasil eksplorasinya ke Papua Nugini. Buku itu cukup representatif di zamannya dan dipublikasikan secara terbatas. la seorang pekerja keras, tak kenal menyerah. Bertahun-tahun bekerja di DPU, semua orang tahu tangan dan pemikiran dinginnya telah menghasilkan jalan-jalan tembus ke desa-desa terpencil yang sebelumnya tak pernah diketahui orang. Sayang, ia tak pernah memunyai teman yang benar-benar baik padanya. Sebagian besar orang yang pernah menjadi teman baiknya kemudian mengkhianatinya. Beberapa kali ia dipecat tidak hormat karena iri hati. Tetapi Uncle tak mudah dikalahkan. la terus bekerja. Kini ia masih menjadi konsultan sebuah LSM di Sumatra Utara. Pekerjaannya membaca, menulis, berpikir, sedangkan usianya sudah 60 tahun lebih.

Ada pengalaman sangat lucu yang tak bisa saya lupakan. Suatu kali ia salat sambil menjinjitkan kakinya. Seusai salat saya mempertanyakan hal itu, jawabnya, "My God is a happy Godl" Menurutnya, Tuhan sesuai dengan apa yang kita persepsikan tentang-Nya. Sungguh banyak kejadian menyenangkan terjadi dalam masa tujuh tahun bersamanya. Kami bahkan pernah berbagi uang. Saat kebun kala lilinya hampir bangkrut, ia mengetuk kamar saya dan bertanya, "Anda punya uang?" Di dompet saya masih ada dua puluh ribu, Uncle mendapatkan sepuluh ribunya dengan wajah merah menahan malu. Saya menghiburnya dengan berkata, "Uncle
dulu kaya raya, sekarang susah. Bagaimana kita bisa menghargai yang kita punya jika kita tak pernah susah barang sebentar?" Matanya berkacakaca. Ya, karenanyalah saya bisa mengatakan kalimat seperti itu. la membuat hidup saya dipenuhi limpahan kasih sayang yang mustahil saya lupakan. Setiap saya bersedih dimintanya saya tersenyum dan berkata, "Look at me, kadar manusia itu dinilai bukan dari apa yang dimilikinya, tetapi dari hatinya."

Uncle selalu membaca buku dalam setiap keadaan. Dalam waktu senggang atau sibuk, ia selalu membaca dan membaca. Saya belum pernah melihatnya berleha-leha tanpa buku di sisinya. Seluruh ruangan di rumahnya dipenuhi buku. Semua jenis buku ada di sana. la orang yang selalu berbesar hati. Terakhir kali kami bertemu di rumah kecil saya, ia bercerita bahwa usaha rumah makannya tak berjalan lancar. "Kini saya hanya bisa naik pesawat kelas ekonomi." la meringis. Saya balas, "Itu pun masih naik pesawat, bandingkan dengan saya yang belum pernah naik pesawat!" la pun tertawa tergelak-gelak.

Buku-buku selalu ada bersamanya. Setiap kami bertemu, selalu ada buku baru yang dibelinya. Buku apa pun menghipnotisnya. Jika Anda bertanya padanya tentang tanaman, hewan, Antartika, feng shui, perekonomian, bangunan, atau apa pun yang ingin Anda tanyakan, saya jamin ia mampu menerangkannya dengan sangat detail dan terang. la hidup dengan buku sepanjang hidupnya, mungkin karena itulah hidupnya dijalani dengan "hati". Katanya berkali-kali, "Book's not everything, it's something you can learn to be honest and wise." (Buku bukanlah segalanya, tetapi sesuatu yang bisa membuat kita belajar untuk jujur dan bijak).

Meskipun kini ia tidak semakin kaya, saya tahu ia bahagia. Bagaimana tidak? la sudah mengalami banyak hal istimewa dalam hidupnya. Ia tak pernah menyesali keadaannya sekarang; kesulitan uang dan hampir bangkrut (lagi), karena ia toh sudah berkali-kali mengalami hal serupa. la akan memulai usaha lain lagi dari nol, belajar lagi, sambil tetap membaca buku dan berharap hidupnya akan baik-baik saja. Kini kami lama tak saling berkirim kabar. Saya disibukkan oleh banyak hal, ia pun demikian, tetapi saya tahu hati kami saling terpaut. Kami akan bertemu lagi suatu hari nanti, kemungkinan besar ia akan datang membawa buku-bukunya, dan dengan gayanya yang sederhana ia akan bercerita pada saya tentang hidup yang dijalaninya sekarang, atau mungkin buku yang akan ditulisnya.

Jadi, "clash" saya dengan tetangga terdekat kemarin bukan apa-apa jika dibandingkan banyak hal yang telah terjadi pada saya selama ini. Saya hanya agak sedikit menyesal atas kedunguan saya yang tak tepat memilah kata. Mungkin karena saya bukan Uncle yang sudah membaca buku teramat banyak selama hidupnya, atau yang telah mengalami banyak hal. Karenanya saya masih belum bisa menghindarkan diri dari hal-hal menyebalkan yang timbul karena mudahnya saya merasa terganggu akan hal-hal kecil di sekitar saya.


Rumah kami hanya sebuah rumah kecil, tetapi saya cukup bahagia dengan semua yang terjadi dalam kehidupan saya selama ini. Semua yang saya alami takkan mungkin saya lupakan, kadang-kadang saya ceritakan jika ada gunanya. Rumah kecil tak lagi terlalu memusingkan, karena saya hidup dengan orang-orang hebat dan baik hati. Saya tahu masih banyak yang akan terjadi dalam kehidupan saya di masa mendatang. Saya berharap akan sanggup menjalani segala sesuatunya dengan penuh kesadaran. Selama hati saya hidup, selama buku-buku masih saya baca, selama masih bisa menulis, rasanya saya tak perlu khawatir tentang apa pun.

Diambil dan disunting dari:

Judul majalah : Jendela Dunia Pustaka (Vol.2 No.11 Juli 2004)
Penulis artikel : Septina Ferniati
Halaman : 18 -- 19

Komentar